Ayah dan Bunda, Jangan Marah




Ditulis oleh Nurul Narulitasari

"Nak jam tujuh kita berangkat ya?"
"Iya Bun."

Bunda berjalan ke dapur menyiapkan bekal makanan yang akan di bawa. Kembali ke ruang tengah, gadis kecil masih duduk manis di lantai sambil menggambar. Mata bunda langsung terbelalak melihat gadis kecilnya belum bersiap-siap. Reflek mata menoleh ke arah jam dinding yang tergantung manis di tembok.

"Astagfirullah, nak belum mandi? Mau berangkat jam berapa?"

Gadis kecil hanya diam dan tersenyum manis, sementara muka Bunda sudah merah dan omelan pun mulai berentet tanpa bisa ditahan.

Pernahkah Ayah dan Bunda mengalami situasi seperti itu?

Saya pernah, bahkan sering sekali terutama setahun belakangan ini saat gadis kecil menginjak usia 7 tahun. Kalau diri ini sedang waras, maka langsung gercep alias gerak cepat tanpa banyak bicara. Lain lagi kalau tubuh ini sedang lelah, bukannya bergerak cepat yang ada hanya omelan yang keluar.

Ketika perilaku anak tidak sesuai harapan, kata-kata yang keluar seringkali berupa omelan, bentakan dan amarah. Dan ketika malam tiba, penyesalan yang dirasakan saat memandang wajah polosnya yang sedang terlelap.

" Bunda minta maaf ya Nak karena tidak bisa mengontrol emosi."

Amarah, omelan dan bentakan adalah bentuk luapan emosi yang sering kali keluar tanpa bisa dikontrol. Sementara emosi sendiri merupakan sesuatu yang bergerak dalam diri kita bisa positif bisa negatif, bisa naik bisa turun. Sehingga perlu dikelola agar selalu positif walaupun situasi yang kita hadapi memancing emosi negatif.

Mengelola emosi yang biasa disebut anger management sangat perlu dipelajari dan dikuasai oleh para orang tua. Sehingga dalam mendidik anak-anak, para orang tua bisa mengelola emosinya. Karena amarah yang terlihat di hadapan mereka dapat mempengaruhi kejiwaan mereka. Kita tentu tidak ingin anak kita tumbuh menjadi anak yang berjiwa pemarah, pembangkang, dan suka marah-marah. Karena dia sering mendapat perlakuan seperti itu dari orang tuanya. Atau mungkin sebaliknya, dia menjadi anak yang pencemas, penakut, pemalu, cengeng dan tidak percaya diri.

Lalu apakah yang harus kita lakukan agar hal tersebut tidak terjadi?  Bagaimana caranya agar kita tidak terjebak dalam luapan emosi negatif ?

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghandle situasi tersebut. Namun dalam tulisan ini akan menampilkan cara yang Rasulullah ajarkan, yaitu  :

1. Membaca Ta'awudz

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah intropeksi diri, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:
أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
Sumber marah adalah setan, godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ُ

"Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang." (HR. Bukhari dan Muslim)

2.  DIAM dan Menjaga lisan

Ketika marah datang, orang bawaannya berbicara tanpa aturan. Seringkali berbicara yang mengundang murka Allah. Diam, adalah cara yang mujarab untuk menghindari timbulnya dosa besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan yang keluat berupa ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

3. Mengambil posisi lebih rendah

Orang yang sedang marah memiliki kecenderungan ingin selalu lebih tinggi. Dengan posisi yang lebih tinggi dia bisa melampiaskan amarahnya. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

"Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur." (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Mengapa duduk dan tidur?

Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)

4. Mengingat hadist  ketika marah

Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki." (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)

5. Segera berwudhu atau mandi

Marah datangnya dari setan, dan setan terbuat dari api. Cara memadamkannya adalah dengan air yang dingin.Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,

"Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu." (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.

6. Mengingat anak adalah amanah dari Allah

Terus mengingatkan diri sendiri bahwa anak amanah dari Allah yang harus jaga dan bimbing dengan penuh cinta. Apalagi anak usia belum akil baligh, mereka belum paham yang benar dan salah. Kesalahan yang mereka lakukan umumnya  karena ketidaktahuan, sehingga perlu dinasehati dengan cinta bukan dengan bentakan dan amarah.

Menurut ilmu neuroparanting, saat marah amygdala sedang dalam kondisi dominan di otak. Maka yang perlu dilakukan adalah mengaktifkan pre frontal cortex dengan cara berpikir, memilih atau memutuskan agar pfc lebih memegang kendali dibandingkan amygdala. Cara untuk mengaktifkan PFC adalah dengan mengalihkan perhatian dari stimulus penyebab marah, bisa dengan mengalihkan pandangan atau dengan mengganti posisi.  Masya Allah jika menyimak ilmu neuroparenting maka ada yang sama dengan sunah yang Rasul ajarkan.

Mengelola emosi (anger management) ilmu dan keterampilan penting yang perlu dikuasai oleh para orang tua. Kita tentu ingin anak kita tumbuh menjadi anak yang ceria, bahagia, sholehah, berani, bertanggung jawab dan jauh dari emosi negatif. Kita tentu ingin anak kita  tumbuh dan berkembang sesuai dengan umurnya dalam dekapan keimanan kepada Allah SWT. Kita tentu ingin anak kita menjadi jiwa-jiwa mandiri yang bertanggunng jawab yang bermanfaat bagi banyak orang. Oleh karena itu mari belajar mengelola emosi. Diawali dengan membaca bismilah... mari kita sama-sama intropeksi diri dan belajar mengelola emosi agar anak-anak kita tidak kena imbasnya.

Selamat Hari Anak Nasional
Selamat bertumbuh dan berkembang dalam dekapan keimanan kepada Allah

Sumber :
* https://konsultasisyariah.com/
* Resume Diskusi Selasa Kami Anak Depok

#tantanganmenulisjuli
#KamiMenulisIbuProfesionalDepok
#HariAnak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram