Emakku Ibuku

Ditulis oleh:  Fatimah Azzahra





Kerbau-kerbau sejak subuh sudah mendengus, masih mengantuk. Wajahnya tersungut sejak pagi buta sudah diajak ke sawah. Melewati pohon-pohon karet menjulang dan satu dua rumah dengan cahaya lampu semprong yang temaram. Cibubur tahun 70’an adalah sepenggal kesunyian diantara bunyi jangkrik dan gemerisik dedaunan. Suara adzan subuh rasanya baru berhenti bersahut-sahutan dan wanita itu menggendong anaknya dengan jarik coklat, kaki khas orang tak pernah kenal sekolah menapak lugas tanah becek tepi pematang. Sang bayi sepuluh bulan di gendongannya masih menghisap jempol, lelap. Wanita berparas ayu itu setengah terburu-buru langkahnya. Tujuannya satu, rumah orang tuanya. Mencari segelas beras untuk mengganjal perut, berharap ada sisa air tajin yang bisa dibuat minum bayi lelakinya. Kemiskinan dan kelaparan seakan tak jauh dari hari-hari selepas pernikahannya. 

.




.
“Assalamu’alaikum Mak….”, suara lirih setengah gemetar ketika mengetuk pintu rumah orang tuanya.

————————–

Wanita itu menggugu, pasalnya selepas kepergiannya subuh buta itu, sang suami murka. Watak keras darah Betawi membuatnya pantang mundur setelah melontar kata—pulang ke rumah. Pasalnya, bagi Noin—pemilik nama dari ayah bayi sepuluh bulan itu, mengartikan kata pulang ke rumah orang tua mencari beras adalah sebuah penghinaan dan pernyataan cerai tak terampunkan. Wanita itu tak diterimanya lagi kembali serumah. Noin memisahkan dua anak perempuannya dengan ibunya. Sementara, anak bungsunya, bayi sepuluh bulan itu di asuh sendirian oleh wanita itu, sebelum akhirnya ia dipinang lagi oleh seorang tukang becak sekaligus pengrajin anyaman bambu asal Ciledug. Darisanalah, garis keturunan baru dimulai, ibu kandung yang saya panggil Ummi, adalah anak kedua dari perkawinan ini.

——-

Tanda pembukaan kelahiran Ummi sudah terlihat, katanya air ketubannya sudah merembes pecah. Saya akan punya adik lagi. 

“Kak, ke rumah emak ya gandeng Aisyah, lewat pinggir jalan aja, sampai rumah Emak”, Abi menyuruh kami mandiri dengan menginap sementara di rumah nenek kami selama Ummi proses bersalin. Selepas subuh saya yang berusia enam tahun itu menggandeng adik saya, Aisyah yang berusia tiga tahun, hanya berdua membawa tas, menyusuri jalan tiga kilometer menuju rumah Emak di pagi buta. Emak adalah panggilan untuk nenek kami, wanita yang tempo itu pun merangsek keluar rumahnya subuh dini hari untuk mrncari segelas beras. 

“Assalamu’alaikum Mak…”, suara kami berdua tercekat, udara subuh di bulan Maret 1996 itu basah oleh gerimis sisa semalam. 

“Ya Allah Nduk….ada apa pagi-pagi udah nyampe rumah Emak?”, wanita yang kami panggil emak itu menyambut kami dengan bertubi-tubi ciuman, berusaha menghangatkan pipi kami yang memerah karena udara dingin. Wajahnya tak secantik dahulu, karena tiga dekade telah mengambil gurat parasnya. Kini, jumlah cucunya tak cukup dihitung dengan dua tangan. Sejak saat itu saya dan adik-adik dirawat dan dibesarkan oleh Emak. Wanita yang pernah terluka karena segenggam beras. 

—————-

“Sudah, Kakak sehabis ini ganti baju sekolah, susul Abi, bilang Ummi ga sadar lagi”, Emak kali ini menampung anaknya pulang, setelah merawat saya dan adik-adik. Pasalnya, obat-obatan psikotropika membuat Ummi tak sadarkan diri setelah meminumnya pagi, petang hari Ummi akan bangun dengan linglung, kadang emosinya tak terkendali. Bayi di sebelahnya adalah adikku yang kedua. Bayi yang setengah terlantar diberikan ASI karena Ummi mengkonsumsi obat anti-depresan, resep dari para neurolog di rumah sakit terbesar di daerah Cikini itu. Saya, yang awalnya mendengus sebal setiap kali mengantar Ummi berobat ke bagian poli syaraf dan poli kejiwaan, lama-lama kebal juga. Bau obat rumah sakit yang membuat pusing kepala membuat saya harus menerima, Ummi saya sakit dan tak berdaya merawat saya dan adik-adik. 

Meski saya dan adik-adik adalah anak dari seorang guru pendidik, nyatanya pendidikan awal kami lebih banyak kami temukan di rumah Emak, wanita baya yang pekerjaan sehari-harinya menjual Nasi Uduk dan semur jengkol. Emak merawat kami seperti anaknya sendiri, kata Emak dahulu anak-anaknya dibesarkan orang lain, ibu tirinya. Jadi merawat kami, cucu-cucu nya adalah selayaknya menebus ketidakberdayaan dirinya di masa lalu, tak dapat mengurus anak-anak perempuannya. Kini, anak perempuannya, yakni ibuku, menjadi pesakitan dengan beragam hipotesis dokter, Emak tetap memiliki hati tulus seorang ibu meski tak lulus baca tulis, Emak tetap menjadi sandaran penguat bagi seorang anak, karena terlepas dari ejekan orang yang melabelkan “orang sakit jiwa” pada ibuku, Emak adalah orang pertama yang menyambut dan menerima kami apa adanya, sebagai cucu sekaligus anaknya. Emak yang saya tahu adalah orang yang paling awal bangun di sepertiga malam dan tak pernah alpa menangis demi kesembuhan anaknya–kesembuhan Ummi. 

Tak peduli apa kata orang, Emak mengajarkan kami untuk tetap tegar melanjutkan hidup, Abi, ayah kami, terpontang panting merawat Ummi untuk pengobatan. Ekonomi keluarga kami morat-marit seperti kapal oleng. Emak dengan penghasilannya berjualan nasi uduk dan semur jengkol di pinggir sekolah telah menyambung pendidikan kami hingga lulus sarjana. Emak yang mengajarkan saya untuk mencintai Ummi secara utuh meski kehadirannya bagai bayang-bayang, sekejap datang dan sekejap pula pergi perhatiannya, Kata Emak, Ummi bukan tak mau mengurus kami anak-anaknya, Kesadaran Ummi yang timbul tenggelam kadang membuatnya lupa akan keberadaan kami, karena Ummi masih berjuang mengenali dirinya sendiri. Seberapa pahitpun diagnosis skizofrenia dan Obsessive Compulsive Disorder (OCD) yang diderita Ummi bertahun-tahun, dia tetap ibu kandung kami. Serenta dan serapuh apapun Emak, yang saya tahu daya juangnya menyambung hidup membesarkan kami tak ubahnya empat puluh tahun lalu ketika kakinya terseok-seok demi segenggam beras. 

Emakku Ibuku, Ummiku juga ibuku, saya hari ini adalah akumulasi pengasuhan unik Emak dan Ummi—yang sampai sekarang takzim ini tak akan pernah berubah. 

Ditulis untuk OWOW “ibu” Kami Menulis IP Depok

https://izzatunnisa.wordpress.com/2019/04/30/emakku-ibuku/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram