Istana

Ditulis oleh: Fatimah Azzahra  




Antrian turis mengular di hari selasa, aku hampir sudah ratusan kali datang kesini, selain sebagai mahasiswa pekerjaan sampinganku adalah sebagai tour guide turis Indonesia yang melancong ke negeri dua benua—Turki. Hari Selasa museum ini buka, sementara di hari senin museum tutup untuk perawatan, maka wajarlah di hari Selasa antrian turis lokal dan asing mengular hingga ke clock tower depan gerbang. Ini adalah museum Dolmabahce. Museum yang dulunya istana, sekarang dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, istana megah puluhan hektar yang menantang mulut Pesisir Laut Marmara.




Sebenarnya aku muak kesini, puluhan bahkan ratusan kali, kalau tak mengingat dollar yang akan aku hasilkan dari menemani bapak ibu turis yang kebanyakan dari mereka adalah aleg (anggota legislatif) dan keluarganya, aku tak akan mau datang. Maklumlah, aku mahasiswa Magister, dengan uang beasiswa pas-pasan dan harus menghidupi anak-istri di rantau yang ikut bersamaku. Sementara izin bekerja bagi mahasiswa asing disini tak akan keluar karena bertentangan dengan perjanjian beasiswa—mahasiswa asing tak boleh bekerja. Maka jika aku sebagai kepala keluarga tak bisa bekerja dengan orang asli Turki, aku bekerja pada orang-orang dari negaraku sendiri. Tapi,…. Cih…aku bagai budak bagi bangsaku sendiri. Segerombolan anggota legislatif yang datang kunjungan kerja 3 jam lamanya di Konsulat Jendral dan beberapa titik pemerintahan Turki membuat kerjasama. Selebihnya aku menjadi saksi mereka melancong dan berbelanja, seperti halnya kunjungan pelesiran yang diberitakan awak media.

Mereka senang sekali dibawa melancong memasuki museum Dolmabahce, bekas Istana sejak jaman Sultan AbdulMecid I, sebuah tempat bersejarah karena presiden pertama Turki Mustafa Kemal Ataturk terakhir menghembuskan nafas di istana ini.

Gaya eksekutif Bapak Legislatif dan ibu legislatif membuatku muak! Entah dari partai apa mereka, aku tak peduli. Penjelasanku tentang Istana Sultan yang sekarang menjadi museum ini seolah jadi angin lalu, berbusa-busa aku jelaskan pada mereka:

“Disini, ditempat ini adalah saksi kehancuran Kesultanan Ottoman”, aku menujuk ruangan besar penuh ornamen kristal dan pualam bergaya khas Eropa. “Di tangan Pewaris terakhirnya Sultan Abdul Mecid I, Ottoman Empire jauh dari kata Islam. Sultan ditentang rakyat karena menghabiskan berton emas demi pembangunan istana Dolmabahce ini, ruangan-ruangan pualam yang Bapak ibu lihat adalah keindahan sekaligus kemewahan yang berlebihan. Disini selir-selir sultan beranak pinak, di ruangan disana itu–Harem namanya, selir yang tak jauh beda dengan gundik-gundik di tempat pelacuran. Mereka dipilih dihias didandani untuk melayani sultan dan petingginya. Hanya anak pertama dari istri sah yang berhak mewaris tahta, seperti cerita di sinetron yang tak kunjung selesai. Tahta itu tak pernah beralih tangan. Kesultanan tumbang karena ketamakan dan kemewahan yang berlebihan dari para pemangku jabatannya. Di masa Sultan Abdul Mecid I, kaum homoseksual Turki mulai berani menunjukkan keberadaannya. Dimasa itu Turki Islam terpuruk tak ubah hitamnya sekelam zaman Eropa sebelum Islam tiba.”





Pink hall istana Dolmabahce Istanbul, bergaya Eropa

.

Ku lirik mereka, para anggota legislatif yang terhormat itu, lebih sibuk memotret diam-diam kemewahan istana (karena dilarang memotret isi istana selama kunjungan museum ini). Beberapa berswafoto bersama sementara mulutku berbusa menjelaskan pada mereka—mereka yang berpendidikan dan memangku nama wakil rakyat.




Blue Halla yang mewah bertahta kristal pualam

.

“Ketika jaman Sultan Abdul Mecit I meski masih menggunakan sistem Kesultanan Islam, namun kehidupannya berbeda dengan para pendahulunya yang zuhud dan mengutamakan rakyat. Abdul Mecit yang sudah mengenal kehidupan Eropa lebih mengedepankan hedonisme sehingga banyak pertentangan yang memicu revolusi Turki mengubahnya menjadi negara sekuler di bawah Mustafa Kemal Ataturk. Ataturk sendiri artinya Bapak Turki, sang founding father.”

“Klik bzzzz”, tetiba suara kamera canggih mengeluarkan cahaya blitznya. Seketika itu juga, petugas museum mendekati kelompok kami. Aku setengah geram menasehati Bapak aleg yang terhormat itu agar lebih santun menjaga adab dalam museum. Mereka melarang keras kegiatan merekam dan memfoto isi museum terutama bagian aurat istana–tempat sultan dan selirnya bergumul dan menetap didalamnya.

Aku tetiba merasa jijik dengan kata Istana. Berapa banyak diantara mereka berebut tahta atau sekedar kursi parlemen, lalu berfoya-foya atas nama kedudukan dan fitnah wanita. Aku lihat di koran-koran digital dalam negeriku Indonesia, anggota dewan pesta narkoba, atau tertangkap basah di tempat hiburan, sementara di meja kerjanya foto mereka tertidur dan menguap saat rapat kerja seolah imbalan biasa bagi kepercayaan rakyat yang diberikan pada mereka. Aku muak dengan segala kilau dunia. Benarlah, ujian dunia sangat berat bagi mereka yang begitu mencintainya. Semakin dicari semakin haus dan tak pernah puas.

Tur mengelilingi dalam Istana Dolmabahce selesai di taman belakang, taman yang hijau penuh tatanan bunga mawar di musim panas yang mekar sempurna. Aku membayangkan selir-selir Istana ketika itu bermandikan cahaya matahari disini menghirup kebebasannya. Sementara di dalam, jiwa dan tubuh mereka terikat aturan Istana. Aku jijik sekaligus merasa kasihan pada mereka yang mengiba untuk dunia.

“Ini tipsnya, terima kasih telah menemani kami berkeliling”, suara Bapak aleg itu membuatku sadar dan menoleh. Dia menyodorkan beberapa lembar dollar pecahan 100. Nominal yang menggiurkan bagi musafir ilmu macam saya. Ah, andaikata semua idealisme saya bisa dibeli dengan uang~




“Assalamualaikum… Dik, Mas pulang“, suaraku melangkah masuk ke apartemen studio sempit 2*3m tempat kami tinggal selama studi disini. Maka nikmat Allah mana yang kamu dustakan?

.

Istriku yang shalihah menyambutku, menawarkan air hangat dan menghidangkan nasi lauk pauknya.

“Dimana Fatih?”, tanyaku padanya. Istriku memberi kode bahwa Fatih, jagoan kami sedang terlelap. Sungguh perjuangan mencari nafkah begitu berat istriku, memberi makan yang halal lagi baik adalah tantangan bagiku sebagai kepala keluarga. Memastikanmu dan anak-anakku makan makanan yang tak hanya halal tetapi baik. Karena darisana aku menjamin anak istriku tak tersentuh api neraka, itulah sebab mencari nafkah yang baik adalah ikhtiarku membesarkan anak agar jiwanya bersih–tak terlalu cinta pada dunia.

“Mas, memutuskan fokus menyelesaikan tesis Dik. Kerjaan hari ini adalah yang terakhir, kita cari rejeki yang lebih baik insyaAllah..”.

Kataku menyudahi kegundahan hati dan menyukupkan diri dengan rejeki yang ada. Berharap suatu hari nanti nasib akan mempertemukan saya dengan para wakil rakyat yang santun dan sahaja, seperti Khalifah Utsman bin Affan—yang takut menggunakan aset negara demi kepentingan pribadi, yang menua karena memikirkan kesejahteraan rakyatnya, yang sibuk memastikan tak ada rakyat yang kelaparan dan menggigil di musim dingin, yang sangat takut menggunakan pelita di malam hari karena baginya sumbu minyak dan pelita adalah inventaris pemerintahan yang hanya boleh digunakan siang hari. Seandainya ada pemimpin yang mulia seperti mereka–mereka yang tak berhasrat menguasai Istana.

——————————–

Ditulis oleh Fatimah Azzahra
Utk OneWeekOneWriting
Terinsipirasi dari gegap gempita pemilu 17 April 2019

Semoga terpilih pemimpin amanah menuju kursi istana

https://izzatunnisa.wordpress.com/2019/04/18/istana/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram