Petunjuk di Louvre

Ditulis oleh: Sheila Ulfia Putri  





Karin takjub. Matanya tak henti menelusuri karya seni indah bertahtakan kalimat tauhid. Karya berumur ribuan tahun yang terjaga dan terawat apik dalam sayap khusus suatu bangunan museum dengan koleksi terkaya di seluruh dunia. Louvre!

Ya, Karin sedang berada di Islamic Art Gallery, Louvre, Prancis. Bagaimana ia yang asli Jawa bisa menjejakkan kaki disini pun masih menggelorakan tasbih di hatinya.

Pria berkacamata hitam dan berjanggut sedari tadi mengikuti dan memperhatikan gerak-gerik Karin. Merasa diawasi, Karin buru-buru meninggalkan Islamic Art Gallery. Ia tidak mengenal pria itu dalam keremangan museum. Pun apa warga negaranya, Karin tidak bisa menebak.

Karin menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan bahagia. Kini ia berada di halaman luas museum dengan bangunan Piramida kaca menjadi magnet utama. Ia pun lupa dengan pria aneh yang ia rasa mengawasinya.

Suasana sore itu di Louvre sangat sejuk, mentari sore memancarkan cahaya emas yang semakin menyepuh kaca Piramida raksasa, menyulapnya menjadi berkilauan.

“Fabbiayyialaa irobbi kuma tukadziban, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Bisik Karin dalam hati sembari teringat surat Ar Rahman.

Tiba-tiba…

“Kamu sendirian saja?” Tanya seseorang dari belakang Karin.

Karin terhenyak. Dari riuh suara beragam bahasa, ada suara berbahasa Indonesia menyapanya. Sisi paranoid Karin muncul dan ia mempersiapkan kuda-kuda apabila pria itu berbuat macam-macam. Karin menoleh…

Oh my God.. pria itu sangat tampan!

Tapi Karin tidak akan tertipu!

“Siapa kamu?” Seru Karin gagah.

“Kamu… Karina Kamila Putri, mahasiswi S2 Sorbonne University” jawab pria tampan itu sembari tersenyum.

Karin tersentak dan makin waspada, apakah ini modus penipuan terbaru? Dan pria itu tahu nama lengkap serta kampusnya. Mengerikan sekali!

“Kamu benar-benar tidak mengenaliku??” Tanya pria itu lagi sembari tertawa melihat wajah Karin yang kaget.

Kacamata hitamnya pun ia lepas.

“Kamu……” Karin tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Angin Louvre membelai membawa Karin ke masa 10 tahun yang lalu, ketika ia siswa baru di SMA favorit di sebuah kota di Jawa Tengah. Ada pemuda yang entah bagaimana mampu mencuri hati Karin. Dibilang tampan pun banyak yang lebih tampan dari Rahman, nama pemuda itu. Kebaikannya, jiwa kepemimpinannya serta kecerdasannya mampu menuai kekaguman di hati Karin.

Rahman kelas 3, dan Karin kelas 1. Satu organisasi dalam SMA membuat mereka semakin mengenal, namun rasa malu dan menjaga kehormatan memisahkan mereka dalam tabir kesucian.

Semenjak Rahman Lulus, mereka tak pernah berkomunikasi, dan Karin yang kehilangan, memfokuskan waktunya pada belajar untuk tidak mengingatnya.

Dan kini… Pria itu.. berdiri di hadapannya, di Prancis!

Rambut yang tertata rapi, janggut yang terawat serta kulit yang kini cerah membuat Karin terbelalak. Tampan..

Oh my God.. Karin berusaha tenang.

“Kak Rahman…” Lirih Karin.

“Akhirnya! Kamu mengenaliku juga. Aku pikir kamu lupa padaku.” balas Rahman.

‘Bagaimana bisa aku melupakanmu, kadang aku mengintip social mediamu’, bisik Karin dalam hati. Walau Karin benar-benar tidak tahu ada dimana Kak Rahman karena socmednya tidak update. Beredar kabar, kak Rahman sedang proses ta’aruf dengan wanita cantik, brand ambassador hijab terkenal di Indonesia.

Karin menghela nafas, apakah Kak Rahman kesini sedang bulan madu?

“Kamu belum jawab pertanyaanku.” Rahman membuka suara

“Yang mana?” Karin tergelagap. Oh Karin yang biasa juara Debat ini terlihat konyol di hadapan Rahman.

“Kamu sendirian saja disini?” Rahman mengulangi pertanyaannya.

“Mmm.. ya.. seperti yang kak Rahman lihat..” jawab Karin mencoba mencerna arah pembicaraan Rahman.

“Aku juga sendirian disini. Ada yang menggerakkan langkahku menuju Islamic Art Gallery sore ini.” tutur Rahman tanpa ditanya. Tatapan matanya menghunjam tepat menyentuh hati Karin.

Karin salah tingkah.

“Apa yang coba dikatakan waktu kepada kita?” Tanya Rahman puitis.

Karin kaget. Itu adalah kalimat yang Karin tulis dalam blog pribadinya.

“Apa yang ingin disampaikan semesta ketika dua sosok insan saling berjumpa di tempat dan waktu yang tak disangka-sangka?” Tanya Rahman lagi, masih mengutip kalimat yang ditulis Karin dalam blog nya.

“Kamu plagiat” ledek Karin menutupi hatinya yang mulai meleleh.

“Jawab Karin.. apa yang ingin disampaikan semesta atas pertemuan kita disini?” Tanya Rahman dengan senyum terkembang.

“Aku tidak tahu…., Ini pertanyaan sulit. Perlu analisis mendalam.” jawab Karin sedikit ngasal.

“Apakah menurutmu ini petunjuk? Aku masih single. Dan sepertinya kamu juga belum menikah, iya kan Karin?”

Karin tergelagap tak menyangka Rahman begitu terbuka.

Karin menganggukkan kepala pertanda ia masih single. Entah kenapa lidahnya terasa Kelu, dan wajahnya terasa panas.

“Jadi.. apakah ini petunjuk untuk kita segera melangsungkan pernikahan?” Tanya Rahman kembali mengagetkan Karin. Secepat ini?

Tanpa diduga, Rahman berlutut. Pengunjung Louvre mulai memperhatikan mereka, bahkan ada yang siap memotret atau merekam kejadian ini.

“Karin, menikahlah denganku”

Karin sungguh tak menyangka… Pria yang hanya berani ia pandang dari jauh, dan ia sebut dalam doa, kini berlutut di hadapannya?



***

Kalau kamu jadi Karin, apa yang akan kamu lakukan?



– tulisan ini ditulis dalam rangka program One Week One Writing dengan tema ‘Petunjuk’ 




source foto : pixabay


https://sheilastory.wordpress.com/2019/04/06/petunjuk-di-louvre/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram