Setelah Jadi Ibu, Apa Kabar Mimpi?

Ditulis oleh: Athiah Listyowati 




Ada yang bilang, setelah jadi ibu banyak wanita yang mau tak mau merelakan mimpinya tertunda. Benar atau tidak biarlah kalian menjawabnya sendiri.
Impian, bagaimanapun menurutku amat penting dalam kehidupan setiap orang. Impian bisa kecil bisa besar, ukurannya tidak menjadi masalah. Yang lebih penting, seberapa besar efek impian itu terhadap tindak dan tanduk pemiliknya. Karena apa guna mimpi bila hanya sampai dipajang di kulkas tidak sampai dikejar bukan?

Semenjak menjadi ibu, sejujurnya aku pernah mengalami titik di mana aku merasa tidak pantas bermimpi. Benar-benar tidak mampu, menyebutkan sebuah impian saja tidak berani. Saat itu dunia rasanya gelap bagiku. Tiada harapan untuk bisa bangkit, apalagi mengejar impian. Mungkin bagi sebagian orang penyebabnya sepele, tetapi sebagai ibu baru sepertiku, hal ini sama sekali tidak sepele. Ini penting dan begitu besar dampaknya terhadap rasa percaya diriku menjadi seorang ibu. Aku, saat itu, gagal menyusui anakku. Bahkan setelah bertemu konselor serta mencoba eksklusif pumping, akhirnya aku menyerah dan merelakan kenyataan bahwa saat itu aku gagal. 

Hari-hari terasa berat, penuh dengan air mata dan kemurungan -padahal aku harus tetap ada untuk anakku (juga suamiku). I dont know what will happen till today kalau waktu itu aku terus menerus meratapi takdir yang sudah tergaris. Lalu aku menemukan ajaibnya sebuah impian dalam membantuku bangkit dari rasa bersalah dan minder sebagai seorang ibu.

Avicenna, salah satu impianku yang akhirnya terwujud bahkan saat aku sedang terpuruk-terpuruknya menjalani hari hari pertama sebagai seorang ibu. 







Avicenna adalah brand yang aku buat dengan keringat sendiri, memilih dan membeli bahan ke Tanah Abang, mengirimkannya ke penjahit, mendesain setiap detilnya, memotretnya, mempostingnya di media sosial, membungkus pesanan dan mengirimkannya ke ekspedisi. Tidak hanya itu, bahkan logo Avicenna pun ku buat dengan bantuan aplikasi sederhana di PC. Lelah? Ga terasa. Sibuk? Tidak juga karena aku tidak memasang target penjualan tertentu. Senang? I am so happy. Bahkan ketika beberapa bulan terakhir aku memutuskan untuk tidak lagi mengembangkan Avicenna, aku masih bisa menemukan energi besar hanya dengan melihat foto-foto hasil desainku yang berubah menjadi gamis ready to wear. Aku bersyukur Allah mengijinkan satu impianku terwujud di saat paling penting dalam hidupku untuk benar-benar bisa merasakan hakikat sebuah impian.

Avicenna, dengan seijin Allah (dan tentu saja ridho suami), telah menjadi salah satu jalan untukku menemukan siapa diriku dan apa yang pantas kuperjuangkan. Aku bisa saja menerima stereotype orang kebanyakan bahwa aku belum pantas disebut ibu bila aku tidak menyusuinya, tapi aku memilih untuk membuktikan bahwa apa yang sudah Allah gariskan untukku tentulah itu yang terbaik. Bahkan kelak kegagalan ini menjadi pemicuku memberanikan diri bermimpi untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi, tidak hanya berhasil menyusui anakku tetapi juga membesarkan mereka dengan sebaik-baik kasih sayang dan didikan. InsyaAllah ~


Throwback saat Kakak berusia 5 bulan | Umi memang gagal menyusuimu Nak, tapi Umi berjanji tidak akan gagal mendampingimu tumbuh

Semenjak itu, aku belajar yakin untuk tidak pernah membiarkan mimpi pergi begitu saja. Meski aku telah menjadi ibu, bukan berarti aku tidak berhak bermimpi. Meskipun jalan menuju mimpi menjadi lebih lambat, meskipun usaha yang harus kukeluarkan jauh lebih besar. Tetap kuberanikan diriku menjemputnya di saat yang tepat. Bismillah ~


Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world. Harriet Tubman



http://www.mamajagoan.com/2019/05/setelah-jadi-ibu-apa-kabar-mimpi.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram