The Haro Family

Ditulis oleh: Hanifati Nur Shabrina  




Konon katanya, lelaki itu berasal dari Mars dan perempuan dari Venus. Mereka bertemu di bumi untuk saling memahami.

***

A story before Marriage…

Namaku Ha. Si perempuan melankolis, moody, serta perfeksionis. Bahasa cintaku adalah waktu berkualitas, dan ternyata aku mempunyai lubang di jiwa mengenai ini. Sebelumnya, aku tak terlalu punya banyak waktu dengan keluarga karena mereka lebih sering aktif di luar rumah. Terlebih lagi, jarak semakin tercipta setelah aku memilih kos sejak SMA hingga kini aku kuliah. Mungkin inilah yang menyebabkanku tertarik padanya.

Namanya Ro. Lelaki tegas, koleris,dan deadliner sejati. Sesungguhnya kam lebih sering berdebat dibandingkan akur akibat kepribadian yang sungguh bertentangan. Ya, sebenarnya Ro menyebalkan. Secara tidak sengaja dia telah membuat ritme hidupku berantakan. Dia membuatku terpaksa mendengarkan ceritanya saat aku seharusnya menyimak seminar dari pembicara yang terlalu menarik jika dilewatkan. Dia membuat fokus belajarku kacau karena terlampau sering mendengar komentar teman yang berusaha menjodohkan. Dia membuatku sebal karena gara-gara tak tahan ledekan, terpaksa aku tak jadi masuk klub robotika karena dialah ketuanya.

Namun, aku tak bisa bohong. Binar matanya saat menceritakan tentang kenangan dan kedekatannya pada keluarga, kurasakan mampu menutup lubang di jiwa.

Apalagi, sering kita dengar bukan? Lelaki yang dekat dengan ibunya, konon akan memperlakukan istrinya dengan baik…

Lalu, hari kelulusan pun tiba. Kami memutuskan untuk menempuh jalan masing-masing, menggapai mimpi masing-masing tanpa tahu apakah takdir kelak menyatukan, atau justru memisahkan.

***

Jadi, apa kau pikir aku menyukaimu, heh?! Aku menjawab chatnya dengan ketus di salah satu medsos. Setelah sekian lama hilang ditelan bumi akibat jarak dan waktu, Ro tiba-tiba muncul kembali di kehidupanku, mendadak berbicara tentang lamaran. Satu hal yang rasanya sangat tidak mungkin mengingat bahwa ada banyak hal yang sudah sengaja maupun tak sengaja kulakukan untuk menyakitinya sepanjang interaksi kami dahulu.

Entah. Aku tak bisa menerka perasaan orang. Hahaha. Ro menjawab renyah. Kursakan mataku menghangat. Kenapa aku?Bukankah aku pernah sengaja membuat jarak dengan cara menyakiti?

Tapi… lubang di jiwa tidak pernah bisa berbohong. Dia seolah bisa mengenali akan apa yang seharusnya menggenapi.

Kalau memang benar serius, temui saja Bapak.

***

Years after Marriage…

“Hei Ro, aku benci padamu.” Kataku suatu hari, saat hormon di tubuh terasa tak seimbang. Pra Menstruation Syndrom. Ditambah tangki cinta yang kosong akibat Ro lembur berkepanjangan di kantor. “Aku benar-benar benci padamu.”

Entah sudah berapa kali kuucapkan hal ini setiap kali kami kekurangan waktu berkualitas untuk ngobrol bersama? Mungkin kalau dihitung, rasanya aku jauh sekali dari predikat istri solihah.

“Kalau kamu benci, kenapa kamu mau menikah denganku?” tanyanya menyebalkan.

“Karena boleh jadi apa yang kamu benci baik bagimu, boleh jadi apa yang kamu sukai buruk bagimu.”Jawabku, ketus lagi-lagi.

“Iya aku istri yang jahat kok, nggak bisa lemah lembut, nggak pengertian kalau suami lagi lembur.” lanjutku.

“Aku suka istri yang jahat.” Kata Ro lagi, tertawa. Menyebalkan bukan? Dia selalu saja tahu caranya agar aku ikut tertawa, ketika sejatinya sedang ingin marah.

“Kenapa sih kita keseringan berantem hanya karena hal sepele?”

“Karena itu bumbu pernikahan.”

“Eh, aku tuh pengen kayak pasangan lain yang harmonis dan mesra, tahu, bukan begini.”

“Eh, emangnya kamu tahu mereka pernah berantem apa nggak?” Ro berkilah.

“Oke-oke, aku minta maaf, Sabtu pas liburan dipuasin jalan-jalan ya.” Ro menambahkan. “Sini peluk. Itu aja kan sebenarnya obatnya?”

“Aku terpaksa memaafkanmu Ro.” Aku tertawa,seraya menghambur ke dalam pelukannya.




***

Another Piece of Our Drama

“Ha, di mana guntingnya?” tanya Ro suatu ketika.

“Di deket kotak yang isinya pensil.” seruku.

Lantas, dua menit kemudian, kulihat Ro masih mencari-cari. Aku bangkit dan membantunya mengambil.

“Ini Ro. Untung aku sedikit tahu bedanya otak laki laki ama perempuan. kalau nggak, bisa-bisa aku sudah bilang Di mana matamu Ro?!”

Ro tersenyum masam. “Kamu menyebalkan Ha”

Di waktu yang lain, aku membuat Ro tersesat gara-gara salah membaca peta.

“Astaga, aku tahu perempuan tak bisa membaca peta. Tapi tak bisakah itu dipelajari?” Ro hanya tertawa tanpa menyalahkan.




***

Ah ya… menjalani hidup bersama Ro membuatku memaklumi statement bahwa konon katanya lelaki itu berasal dari Mars dan perempuan dari Venus. Mereka bertemu di bumi untuk saling memahami. Mungkin bagi kami, para (sok-sokan) engineer, aku, Ha, yang melankolis ini berupa garis biru yakni layar bawah dari suatu PCB (Printed Circuit Board)* sedangkan Ro yang koleris merupakan garis merah, yaitu layar atas suatu PCB. Kami terhubung oleh via bernama pernikahan. Dua pribadi berbeda yang dipertemukan untuk maksud tertentu. Agar rangkaian kehidupan kami berjalan sesuai maksud Sang Designer, tak ada salahnya untuk selalu memeriksa koneksi masing-masing. Membangun kelekatan yang baik, hingga saat ada sesuatu yang salah, kita bisa melakukan troubleshooting dengan tepat. Connection, before correction. Untuk itu, yang diperlukan adalah saling mengetahui datasheet komponen-komponen yang ada di layar bawah dan layar atas. Karena, seharusnya tak ada troubleshooting yang tak berhasil jika kita selalu melihat panduan, yakni datasheet yang merupakan karakter masing-masing. Tak lupa pula untuk selalu bertanya pada Designer terbaik kehidupan kami : Allah.




***

Kami, Haro family, sebuah keluarga biasa yang masih saling belajar mengerti satu sama lain meski kadang dibumbui pertengkaran sepele. Namun, ada satu hal penting yang kami pahami sepanjang perjalanan keluarga kami yang masih seumur jagung ini. Bahwa sejatinya makna kebahagiaan dalam keluarga takkan bisa digapai jika mata terlampau silau dengan kondisi keluarga lain. Bahwa solusi setiap permasalahan takkan selalu sama diterapkan pada keluarga yang berbeda.

Aku, Ha, sejatinya belajar banyak dari Ro tentang ini. Tentang bahagia yang letaknya pada hati sepenuh syukur. Tentang mencintai ketidaksempurnaan, tentang saling menguatkan bahwa sejatinya, dalam kondisi apapun, Allah selalu bersama kita. Maka ketika rasa kesal terasa memuncak, menyungkur sujudlah padaNya. Mendoa tentang kebaikan-kebaikan untuk pasangan, meminta dilembutkan hatinya. Sungguh, perjalanan rasanya masih panjang jika tujuannya adalah surga.

Semoga kami, kalian, keluarga-keluarga dimanapun, bisa selalu mengatakan….

“Keluargaku adalah tempat pulang terindah. Mungkin belum surga, tapi cerminan dari rasanya….. “

Aamiin.

***

Depok, 30 Maret 2019

*Printed Circuit Board adalah papan yang berisi jalur rangkaian elektronika yang saling terhubung. Definisi lengkap bisa dilihat di sini

#KamiMenulis #IPDepok #OWOW



https://ninalawliet.wordpress.com/2019/03/30/the-haro-family/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram