Ojo Gumunan, Ojo Kagetan





Ditulis oleh: Zy Fauziah 


Ojo gumunan, ojo kagetan, istilah Bu Septi Peni menyatakan tentang respon jika kita melihat sesuatu hal yang kelihatannya tidak biasa.
Biasa saja dalam menanggapi sesuatu. Baiknya dengan bernafas sejenak, lalu berpikir menggunakan pre frontal cortex si penentu keputusan.
Istilah ini saya coba aplikasikan saat menghadapi perilaku anak-anak saya.
Jika ada kesalahan yang diperbuat oleh anak-anak, itu tandanya anak tersebut belum tahu dan belum terbiasa, maka latihlah terus dengan sabar hingga ia terbiasa melakukannya.
Lihat dulu si anak melakukannya atas dasar apa. Jangan terburu-buru menilai, apalagi memberikan hukuman.
Jika anak-anak melakukan suatu kebaikan, pujilah ia dan berikan pemahaman bahwa semua itu terjadi karena kehendak dan karunia dari Allah semata.
Jangan terlalu menaruh harap yang sempurna pada anak-anak, karena sejatinya ia masih belum mengerti dan memahami maksud kita. Kitalah sebagai orang yang lebih dewasa yang pernah melewati seumurannya, yang harus memahaminya.
Latih dengan sabar kecakapan dan pelajaran dalam hidup anak-anak kita. Jika mereka belum berubah, segeralah mendekatkan diri pada Allah, berdoa sebaik-baiknya, mintalah pada Allah yang Maha Membolak-balikkan hati seorang manusia. Agar anak-anak kita memiliki akhlak yang baik. Yang menyejukkan hati bagi siapa saja yang melihatnya.
Jangan pernah menaruh dendam pada anak, karena sejatinya tidak ada anak yang nakal. Yang ada hanyalah dia belum tahu apa tugas dan tanggungjawabnya.
Atau mungkin, ada hikmah dibalik anak yang melakukan kesalahan.
Suatu hari, saat liburan sekolah. Anak sulung saya yang usianya 14 tahun, mengejutkan saya dengan meminta izin untuk pergi menemui teman-teman lamanya di Tangerang.
Saya sebagai ibunya sangat khawatir sekali dengan jarak Depok-Tangerang yang cukup jauh dan memikirkan pengaruh pergaulan. Mungkin kekhawatiran ini berlebihan.
Akhirnya dengan banyak berpesan dan berdoa, saya dan suami mengizinkan si sulung pergi bersama teman-temannya.
Sepulangnya si sulung, saya kepo dan melihat galeri di ponselnya, ternyata dia tak hanya pergi dengan teman laki-lakinya, ada teman perempuannya juga dua orang. Mereka berfoto ria sambil makan-makan di sebuah mall.
Awalnya saya kaget, karena si sulung tidak pernah bepergian dengan teman lawan jenis, tapi akhirnya rasa kekhawatiran itu mereda. Justru saya tersadar. Anak sulung saya sudah besar. Sudah tidak bisa lagi diikuti kemanapun dia pergi. Dia punya privasi sendiri. Dia seperti laki-laki normal lainnya yang juga memiliki teman perempuan.
Mudah-mudahan moral yang kami tanamkan sejak dalam kandungan, cukup baginya untuk tetap berada dijalan yang benar. Selagi masih dalam batas pertemuan yang wajar, tanpa ada sentuhan fisik, saya pun meridhoi perubahan si sulung. Dengan tarikan nafas yang panjang.
Hhhhhh.. si sulung sudah beranjak dewasa.
-zy fauziah-
#oneweekonewriting
#kelasminatmenulis
#ibuprofesionaldepok

https://zyfauziah.wordpress.com/2019/09/17/ojo-gumunan-ojo-kagetan/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram