Udding



Ditulis oleh: Fathimah Az Zahra



Udding“, begitu panggilan akrab mereka padaku, penyebutan nama Bacharuddin di tempat lahirku. Mereka, teman sepermainanku juga memanggilku Rudy. Mereka yang aku sebut teman sepermainan sebenarnya hanya teman berkelahiku, tak lebih. Mereka yang aku tinggalkan kalau kakak Titi sudah lepas mengawasiku. Kak Titi tidak seperti kakak lainnya yang meneriaki adiknya masuk ke rumah karena sudah terlampau lama bermain. Kak Titi justru meneriakiku agar keluar rumah untuk bermain. Jika kak Titi sudah melihatku keluar rumah dan berbaur dengan teman Kak Titi biasanya berangsur kalem dan melanjutkan pekerjaannya lagi masuk ke kamarnya. Aku dengan mudah dapat mengendap lagi ke kamarku melalui jendela dan meneruskan lembaran buku yang belum selesai aku kukuri. Aku memang berbeda dengan kak Fani, kakak perempuanku yang lainnya, yang lebih suka bermain. Mainanku hanya berkutat pada buku dan mecano—sejenis lego dari besi.
Sekeluargaku tahu, aku adalah orang paling bersikeras kalau aku merasa benar. Jika aku berselisih dengan Kak Fani, maka melihat reaksiku yang ngotot akan membuat kak Titi tahu aku tidak bersalah. Lain halnya jika aku yang salah maka aku akan pasrah dihakimi kakak. Sikap ngotot dan beraniku ini berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan perawakanku.
Badanku kecil dengan rambut sedikit tak lurus, saking tak senangnya bermain pernah suatu ketika aku sakit panjang. Hingga ayahku, Djalil Habibie yang menjabat sebagai Kepala Pertanian di Sulawesi Selatan menjualku kepada salah seorang raja pemangku desa, kalau di Jawa proses penjualan ini untuk membuang sial. Aku sendiri antara percaya tak percaya bahwa setelah Raja Barru (Arung Baru) menukarku dengan sebilah keris dan aku tinggal di rumahnya untuk perawatan akhirnya sakitku sembuh. Aku hanya percaya kekuatan kesembuhan itu dari Tuhan. Meski selama tinggal di pelosok bersama Arung Barru, aku diwajibkan memakai magnet yang diikatkan di bagian perut. Aku hanya belajar medan magnet bisa jadi membawa ion baik bagi tubuh pesakitanku saat itu.
Sepulang dari perawatan di rumah Arung Barru aku masih dikucilkan karena jarang bermain tapi bukan berarti aku bisa disepelekan ketika bermain dan berkelahi. Meski ketika bermain aku sering dicurangi atau ketika ditantang berkelahi selalu diejek tak akan menang. Suatu hari aku membuktikannya bahwa menang bukan soal besarnya badan tetapi soal tajamnya strategi di kepala. Ketika si gempal itu menantangku adu gulat sesuai perhitungan, pada hitungan ketiga tubuh kurus serupa jari kelingking ini akan ditubruk habis-habisan. Maka strategi kemenanganku adalah saat dia lengah ku sebar segenggam pasir di depan matanya. Seketika keseimbangannya goyah, kunaiki tubuh gempal setengah limbung, tangannya tak seimbang mengucek matanya yang perih karena pasir, sementara aku si Udding kecil menaiki tubuhnya sambil terus memukulinya hingga akhirnya ia mengaku kalah. Itulah yang kunamakan menang dengan strategi.
Ada yang bilang, aku begitu berani karena aku lahir di tangan duku beranak desa, meski katanya aku anak keturunan garis biru namun dunia beranak pinak masih sangat tradisional. Sandro sebutan untuk dukun beranak di daerah lahirku. Katanya dukun beranak itu memutus ari-ari dengan daun bambu yang tipis tajam dan tersohor lebih steril daripada gunting di rumah bersalin. Bisa jadi semangat bambu runcing juga lahir darisini, mengalir dalam darahku. Ibuku, Marini, adalah sumber cinta yang tak pernah habis, sumber segala kebaikan yang mengalir dalam tubuh kecilku.
Meski disebut anak gedongan aku tak mau diistimewakan, ketika mengaji dengan teman sebaya bersama Kiayi Kampungku yang bernama Hasan Alaudi atau sering disebut Kapitan Arab aku tak segan membantu mengangkat ember memenuhi gentong airnya di rumah. Maklum guru ngajiku sudah senja dan memang itulah bayaran kami para santri ciliknya, bukan dengan uang tapi dengan tenaga—berbasah-basahan mengangkut air mandi dan masak selepas mengaji quran. Kali ini aku harus berterima kasih pada ayah yang mengirimkanku ke guru quran belajar mengkhatamkannya setiap hari.
——————-
Aku menatap mata lelaki itu lekat, dia mencium tanganku seolah meminta maaf. Aku merasa kenal lelaki ini, lelaki yang berpakaian pegawai keamanan, badannya gempal kulitnya sawo terlalu matang. Ini adalah kunjunganku ke tanah kelahiran setelah aku resmi dilantik menjadi orang nomor satu menggantikan Pak Harto. Siapa yang menyangka migrasiku ke pulau Jawa saat itu dengan kapal lau Kompenu untuk menimba ilmu di Jakarta dan Bandung hingga ke Aachen mengantarkanku pada posisi nomor satu di negeri ini. Lelaki itu memperkenalkan diri dan benar saja dia adalah teman sepermainanku ketika bermain kelereng dulu. Tentu aku selalu kalah bermain kecuali dalam perkelahian yang tempo dulu kuceritakan.
Selepas acara kunjungan birokratif itu aku berbincang dengan lelaki bertubuh gempal yang bercerita sekarang mengabdikan diri sebagai pamong desa. Nasib membawaku ke luar dari kampung halaman merantau mencari ilmu, dari teknik mekanika hingga ilmu perdigantara. Sementara nasibnya tidak juga lebih buruk, meski tak keluar kandang ia menjadi pamong desa dan mengembangkan pendidikan anak kurang mampu. Aku tak mendendam padanya meski ia mengaku sering mencurangi permainan kelerengku ketika itu, aku rasa tak perlu otot kuat untuk menjadi orang baik yang pemaaf. Aku hanya menitipkan kampung halamanku pada pamong desa bersemangat kuat sepertinya, dua lembar tiket umroh hadiah kuselipkan padanya itu cukup membuatku ingin terus memajukan Indonesia karena tidak perlu menjadi politikus untuk dapat berbuat baik untuk negeri, aku yakin Indonesia hanya perlu lebih banyak orang baik berhati nurani. Perlu banyak anak Indonesia yang belajar dan berjuang untuk cita-citanya. Aku lega melewatkan masa kecil bahagia di kampung halaman ini, tempat awal aku menemukan ketertarikanku pada mesin dan mekanika.
.
.
BJ Habibie (1936-2019)
Selamat jalan eyang, perjalanan masa kecil menjadi seorang anak yang bahagia dengan cita-citanya adalah pemantik kami semua. Selamat lepas landas Eyang, semoga kubur Eyang lapang seluas lepas landas pesawat di Bandara.
.
.
Sumber:
Disarikan ulang dari buku Habibie Kecil tapi Otak Semua. 2012.

https://izzatunnisa.wordpress.com/2019/09/17/udding/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram