Menjauhkan Anak dari Cinderella Syndrom dan Peter Pan Complex




Tahukah mak, terdapat dua jenis sindrom yang bisa dialami anak-anak kita akibat pola asuh yang keliru. Psikolog menyebutnya dengan "Peter Pan Syndrom" dan "Cinderella Complex" karena pengidapnya mengalami sifat kekanak-kanakan layaknya dua karakter dongeng tersebut. Yang mengkhawatirkan ialah, dua sindrom ini berpotensi besar mengarahkan anak-anak pada perilaku menyimpang yang mengerikan.

Peter Pan syndrom dialami anak laki-laki yang secara psikologi, sosial, dan seksual tidak menunjukkan kematangan atau kedewasaan. Mereka mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi, narsis berlebihan, anti kritik, sulit berkomitmen, tidak bisa mandiri, dan tidak bisa mengambil keputusan.

Sejenis, Cinderella Complex juga berkaitan dengan kedewasaan yang enggan dialami si penderita. Sindrom ini dialami anak perempuan yang biasa hidup enak dan serba nyaman. Alhasil, saat dewasa ia terus saja ingin disayang, dilindungi, diselamatkan. Ia berharap suami yang dinikahinya adalah pangeran yang sempurna baiknya.

Penyebab munculnya sindrom tersebut adalah murni kesalahan orang tua. Dilansir mommiesdaily[dot]com, Elly Risman menyebutkan bahwasanya pola asuh orang tua yang memanjakan anak menjadi sebab munculnya sindrom tersebut. Sebut saja, orang tua terus saja memenuhi keinginan anak, melengkapi semua kebutuhannya, bahkan memberi sebelum anak meminta.

Bahaya Dua Sindrom


Dua sindrom tersebut bukan perkara sepele loh mak, karena dampaknya luar biasa. Masih dijelaskan Ibu Elly, anak dengan pola asuh demikian akan menyebabkan kemampuan Adversity Quotion (AQ) yang rendah. Anak dengan AQ baik, ia akan tahan banting menghadapi masalah hidup saat dewasa kelak.

Sebaliknya, anak dengan AQ rendah akan mudah terjangkiti Peter Pan Syndrome atau Cinderella Complex. Jika sudah terkena sindrom tersebut, mereka juga dapat dengan mudah terpengaruh pergaulan negatif hingga akhirnya melakukan perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, narkoba, dan sebagainya.

Melindungi Anak dari Sindrom


Cara yang dapat orang tua lakukan, kata Bu Elly Risman, ialah dengan mendidik anak pola BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan). Seringlah mengajukan kalimat tanya untuk memancing anak dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Selain itu, anak-anak juga perlu dilatih menerima kenyataan hidup bahwasanya tidak semua keinginan dapat dipenuhi. Jangan selalu penuhi keinginannya,  jangan bela anak saat melakukan kesalahan. Dengan pola asuh demikan, orang tua melatih AQ anak agar kelak mereka menjadi pribadi yang tangguh.

“Untuk mendidik anak menjadi tangguh tidak hanya menekankan akademis, karena sukses tidak hanya ditentukan oleh IQ,EQ,SQ saja tapi juga AQ. AQ atau Adversity Quotient menujukkan sejauh mana anak dapat bertahan dalam penderitaan dan dapat mengatasinya dengan baik," ujar psikolog kondang tersebut.

Sebagai pendidik utama anak-anak, kita harus semangat selalu ya mak untuk mengasuh buah hati dengan baik. Lupakan letih untuk selalu belajar ilmu parenting dan menerapkannya. Berlelah-lelah sekarang mendidik anak  agar kelak, saat mereka mampu berdiri sendiri, pendidikan kita telah tertanam kuat. Mereka pun selamat dari segala sindrom dan perilaku menyimpang.

FYI mak, dalam waktu dekat IPDepok akan mengadakan talkshow parenting bertema ketahanan keluara agar anak terhindar dari perilaku menyimpang. Catat waktunya ya mak: Sabtu, 21 Desember 2019 di Auditorium Lt4 RS. Universitas Indonesia. 

#institutibuprofesional #institutibuprofesionaldepok #ibuprofesional #ibuprofesionaldepok #ipdepok #iipdepok #komunitas #depok #komunitasdepok #event #acaradepok #eventdepok #roadtomilad



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram