Sekelumit tentang Anak dan Konflik Keluarga






Ditulis oleh: Fatimah Azzahra

Marriage preparation bukan sekedar persiapan fisik tapi juga sampai detil bagaimana menyiapkan diri jadi ibu, jadi orang tua dengan segala dinamika rumah tangga nantinya. Minggu kemarin saya berkesempatan menyimak pemaparan Mba @devisani seorang psikolog anak yang juga praktisi dibalik layar @rainbowcastleid dalam acara kajian offline @bengkeldiri_jabodetabek .

Sudah sebuah keniscayaan bahwa setiap rumah tangga pasti akan memiliki konflik dan yang paling jadi korban biasanya adalah anak. Ada anak yang kuat sehingga meski dari keluarga brokenhome namun kepribadiannya hangat dan terbuka tetapi ada juga yang berangkat dari konflik keluarga akan membawa tekanan tersendiri.

Mba Devi menjelaskan dengan bahasa yang sangat awam karena sebagian peserta masih single, sementara saya yang ikut mendengarkan sambil momong anak 31 bulan sudah tentu menyimak sambil mengangguk-angguk kepala–sebuah runtutan sebab akibat yang disampaikan dengan smooth.

Dalam materi disampaikan bahwa fase dalam perpisahan rumah tangga ada 3 tahap yang harus dilalui oleh seorang anak. Fase Pertama, fase paling menyakitkan dan menakutkan bagi anak ketika orang tua berkonflik, orang tua sering membuat keputusan tidak matang sehingga anak merasa lebih dulu terpisah meski dalam satu rumah. Di masa inilah anak paling perlu pendampingan. Yang perlu dipahami oleh orang tua ketika berkonflik dan diketahui anak, bisa saja orang tua berdamai atau sejenak melupakan/reda tetapi anak tanpa tahu tetap menyimpulkan orangtuanya sedang bermasalah, perasaannya tercederai. Beratnya adalah, biasanya fase ini tak terlihat oleh keluarga lain atau kerabat yang bisa menolong pendampingan anak, anak memendam emosi dan seribu pertanyaannya sendiri.

Fase Kedua, setelah konflik memuncak dan berujung perceraian, anak akan masuk fase hidup baru, jika fase 1 anak didampingi baik anak akan mudah menyesuaikan dg kehidupan baru ini– memahami bahwa orang tuanya tak serumah lagi, memahami bahwa ia hanya bisa tinggal pada salah satu orangtuanya, menyadari akan hadir sosok lain pengganti ayah ibunya yang akan masuk nantinya, dst. Fase Ketiga, masa stabil, ketika anak sudah menerima kehidupan barunya setelah orang tuanya berpisah.

Sungguh, anak akan lebih rentan mengalami masalah kepribadian (bipolar, skizofren, dll) dan perilaku saat dibesarkan dalam keluarga yang tidak saling sayang (orang tua sering bertengkar). Bukan hanya karena anak masih kecil sehingga belum paham masalah orangtua, tetapi karena anak biasanya belum bisa mengeluarkan emosi dan perasaannya ketika melihat konflik yang terjadi. Masalah emosi yang disepelekan ini bisa berkembang menjadi masalah mental health.

Mental health bukan hanya menyerang orang yang frustasi dsb, bahkan ketika membuka sosial media, seorang dewasa bisa terganggu ketika melihat update orang lain, yang terjadi adalah self-comparing, membandingkan diri sendiri sehingga tertekan. Karenanya kita harus punya kemampuan melenting, membangkitkan diri dari posisi paling bawah sekalipun (resiliensi). Kemampuan ini yang harus juga ada pada anak ketika anak mengalami trauma pada konflik orang tua, dsb. Naluriahnya anak selalu memiliki semangat baru untuk belajar, meski jatuh ketika belajar jalan pantang menyerah, dst tapi hal ini memudar ketika tidak didukung orang tua atau motivasi dari dalamnya hilang.

Penuturan Mba Devi membuat saya terhenyak, kembali pada konsep attachment (kelekatan) antara orangtua dan anak. Dikatakan attachment style semasa bayi akan mempengaruhi bagaimana nanti sikap anak pada org lain (posesif/tidak, defence/tidak, secure/insecure) dst, bagaimana ia membangun komunikasi pada pasangannya kelak dst. Baca disini ya jenis-jenis attachmentnya. Terhenyak saya bahwa memang, pilihan mendidik anak dan pola asuhnya memang akan membentuk frame of experience dan frame of reference-nya. Anak yang merasa secure karena sudah mendapat cukup cinta dan kepercayaan serta kelekatan dengan orangtuanya dimasa golden age akan cenderung menjadi pribadi yang lebih tangguh (resilient).

Bayi meski tidak mengerti pertengkaran tetapi bayi menangkap rasa. Dalam buku Why love maters, detak jantung anak nti akan selalu dalam keadaan cemas (anxiety) ketika terus menerus berada dalam keluarga yang berkonflik/bertengkar dst, karena yang ditangkap bukan rasa kehangatan.

Sebagai orangtua, kita memiliki pilihan untuk mengatur konflik agar anak tidak terus berada dalam kondisi yang traumatis.


  1. Komitmen untuk melindungi anak, pahami fakta bahwa anak terluka dg konflik orang tua. Orang tua harus pandai mengatur konflik sehingga setidaknya tidak terlihat anak.
  2. Berikan sinyal untuk menyudahi konflik ketika terlihat akan muncul konflik lagi, masing-masing pasangan harus sadar hal ini bisa memantik konflik lain/konflik lama sehingga lebih baik disudahi
  3. Berkomunikasi efektif sehingga anak tidak terabaikan





Bagaimana orang tua merespon kesedihan anak? Ini juga hal penting jangan sampai salah respon. Saat anak berada di tengah konflik orangtua, akan sulit ditanya. Kadang orangtua sendiri sulit merespon perasaan anak secara atraktif.
Orang tua seringkali merasa kurang bisa merespon dan tdak tahu bagaimana menenangkan anak, memahami perasaannya. Bagaimana orangtua merespon pada perasaan anak menjadi faktor penting dlm membetuk perkembangan anak.

Kesalahan umum yang dilakukan orang tua ketika menanggapi anak yang bersedih adalah menyangkal perasaan sedih anak, padahal ini bisa jadi fatal. Menyangkal bisa dalam bentuk:


  • mengabaikan atau anak dilarang sedih
  • marahnya anak dianggap tabu
  • menghibur berlebihan agar anak tetap sibuk dan bahagia



Padahal emosi perlu disalurkan dan dikomunikasikan, agar tidak terbendung di dalam, karena suatu saat bisa explode, pecah sewaktu-waktu. Emosi negatif atau perasaan sedih/marah/kecewa/putus asa tidak akan selesai jika tidak diatasi atau dikeluarkan, ini akan terbawa sampai dewasa akan terbawa jadi unfinished business/inner child. Dampak paling awal yanh terlihat adalah kecemasan (anxiety).

Merespon efektif perasaan sedih anak sebenarnya dapat dipelajari, dengan tahapan:


  1. Kenali perasaan sedihnya dan dekati langsung, alih alih mengabaikan dan menganggap bahwa perasaan akan berlalu sendiri baiknya kenali saat anak menunjukkan kesedihannya. Cara menunjukkan empati: berlutut setara anak, melihat matanya, katakan dengan nada biasa “kamu kelihatannya sedih“. Ini kalimat penerimaan dan empati pada perasaan anak, mengakui perasaan anak saat itu.
  2. Validasi perasaan sedihnya, bukan menghilangkan akan membuat anak segera melupakan kesedihannya. “iya pastinya kamu gak seneng ya….” Emosi jika abaikan akan mengendap, jika divalidasi akan menguap dan jadi lega.
  3. Beri rasa nyaman anak dengan menunjukkan afeksi tidak dengan distraksi perasaan. Anak yg didampingi dg perasaan afeksi (sentuhan, pelukan, tatapan mata) dan diterima, akan mudah bangkit perasaannya jdi positif tnpa perlu iming-iming hadiah, resiliensinya terbentuk.

Bentuk kecemasan anak yang paling mudah terlihat misalnya ketika tantrum. Manajemen anak trantrum dapat dilakukan sebagai berikut:


  • Tidak banyak tanya dan tidak panik merespon
  • Validasi perasaan sedikit sedikit
  • Ditemani, jgn diabaikan



Jadi, pilihan ada pada tangan orang tua, akankah terus menerus menyelimuti anak dalam konflik rumah tangga atau menemaninya bertumbuh dalam kehangatan keluarga yang utuh.



Fatimah Azzahra, M.Sc, ummanya @tsabita_fz


https://izzatunnisa.wordpress.com/2019/09/30/sekelumit-tentang-anak-dan-konflik-keluarga/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram