Senyapnya Tidur Para Pemangku Ilmu



Ditulisoleh: Fatimah 


Saya pernah menggambarkan Mesir dengan kegersangan kota disini. Namun kali ini saya akan mengajak menelusuri makam para ahli ilmu di tanah Fir’aun. Mesir tak se0demikian melekat di hati saya kecuali penjual jus tebu di belakang kampus Al-Azhar yang terkenal murah dan segar, juga kenangan tentang makam para ahli ilmu yang bertebaran disini. Entah mengapa mereka memutuskan untuk menghembuskan napasnya di tanah gersang Mesir, meski tak jarang tanah leluhur mereka bukan disana.

Siang itu saya dan suami ikut rombongan mahasiswa Indonesia di Mesir yang merangkap sebagai tour guIde kami, menelusuri jalan kota yang panas dan berdebu meski jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, titik temu kami di depan Istana Abdeen yang terletak di bagian timur Kairo. Dari depan gerbang menuju bangunan utama masih berjalan beberapa puluh meter dengan pemandangan jejeran pohon kurma. Kami tak masuk kesana, karena tujuan utama adalah mencari bus menuju kota mati, bus ini banyak lewat depan istana.

Kota mati, city of the dead, kami menyelusuri pinggir jalan raya yang letaknya agak tinggi, dari sana kami bisa melihat komplek pemukiman dengan atap bangunan khas rumah di Kairo yang padat bertumpuk-tumpuk. Saya tak menyangka, itu bukan pemukiman berpenduduk biasa, itu adalah pemakaman yang begitu luas hingga membentuk komplek. Rumah-rumah disana tak berisi manusia hidup tetapi makam tempat bersemayam. Sebelum masuk ke area komplek kami harus masuk lewat bawah fly-over jalan raya besar, menyusuri ruas jalan yang penuh kaki lima, beberapa keledai terlihat lelah bermuatan periuk tanah, persis seperti di cerita Nasruddin Hoca atau Abu Nawas. Beberapa kedai pinggir jalan dipadati lelaki yang mampir sekedar menghisap sisha atau membeli sarapan. Saya tak menyangka di belakang keramaian ini ada kota mati penuh debu.

Perjalanan memakan waktu, hingga akhirnya kami masuk tepat di city of the dead sudah lebih pukul sepuluh pagi. Ada beberapa makam orang pentIng yang kami sempatkan cari. Persis mencari alamat rumah, kami harus memastikan alamatnya benar karena ada ratusan ribu bangunan berisi makam di kota ini. Sepanjang pencarian kami melihat ada beberapa penduduk lokal yang tinggal di kota mati, mahasiswa yang menemani kami bercerita, mereka bisa jadi keluarga/ahli waris yang tidak punya tempat tinggal lain sehingga tinggal bersama jasad jasad di kota mati ini. Jika malam tiba mereka-lah yang menghidupkan lampu pijar.

Di antara debu, tiupan angin yang menggoyangkan dahan pohon kurma kering ada anjing menyalak melihat kami–orang asing, lewat. Kami sampai ke makam pertama..

1. Makam Jalaluddin As-Suyuthi


Lahir di Kairo, Jalaluddin As-Suyuthi pun dimakamkan di kota mati ini, di kota kelahirannya. Terkenal sebagai cendekiawan muslim di abad ke-15 pada masa dinasti Mamluk. Dikenal sebagai ulama serba bisa yang menguasai ilmu quran, hadits, bahasa, fiqh, dll. Makamnya berpintu hijau dan terkunci, kami hanya bisa mengucap salam dan mengirimkan Alfatihah. Pada liputan seorang vlogger di depan makam yang sama kita dapat mengambil hikmah hidup Imam As-Suyuthi.



2. Makam Ibnu Hajar al-Asqolany


Penulis kitab Fathul Bari syarah sohih al-Bukhori ini makamnya kami temukan dalam kondisi yang sangat mePrihatinkan. Tulisan makamnya hampir retak dan sudah ditembok tertutup serupa puing. Letaknya pun di pinggir jalan komplek kota mati yang gersang. Siapapun yang tak membaca khat arab yang menunjukkan nama pemilik makam tak akan mengetahui bahwa yang terkubur disana adalah ulama besar.



Ibnu Hajar al As-qolany seorang ahli hadits yang fenomen dengan karyanya kitab Fathul Bari (kemenangan Sang pencipta) yang terdIri dari 36 jilid (terjemahan) atau 15 jilid (terbitan Darul Qatab) yang dipakai oleh banyak penganut mahdzab Syafi’i. Menurut riwayat lain, bahkan disebutkan Ibnu Hajar al As-qolany menulis hingga 270 jilid kita berbeda. Sayang sekali peristirahatan terakhirnya di kota mati ini terbengkalai penuh debu. Semoga Allah lapangkan kuburnya setara dengan luas ilmunya.

3. Makam Ibnu Atha’illah as-Sakandary



Penulis kitab al-hikam ini sesuai nama julukannya memang berasal dari kota Iskandariyah Mesir atau lebih dikenal sekarang dengan nama kota Alexandria. Terletak beda komplek dengan dua makam sebelumnya, untuk menuju makam Ibnu Athoillah kami harus naik angkutan umum lagi ke daerah utara Citadel di komplek pemakaman Al-Qoroffah Al-Kubro .

Tidak seperti dua makam lainnya yang tak terurus, makam Ibnu Athoilah sebagai tokoh sufi terkenal dibangun lebih megang dengan adanya masjid disamping makam. Kami sampai disana hampir dzuhur dan menyempatkan diri berwudhu dan shalat dzuhur disana. Air wudhu nya bening dan dingin tak serupa air yang mengalir ke perumahan penduduk Kairo biasanya.

4. Makam Imam Syafi’i



Makam Imam Syafii ini meski megah bernuansa hijau tapi bisa dibilang tak begitu bersih. Saya menjumpai beberapa pedagang kaki lima di pelataran makam dan juga pengemis. Pengalaman serupa juga dituliskan peziarah lainnya disini. Terletak di daerah Basyattin Kairo kami berlabuh menjumpai Imam besar dari empat mahdzab. Kitab Al-Umm, Imla’ al-Shaghir, Jizyah, Ar-Risalah dan sederet karya lainnya adalah karya Imam Syafi’i. Wangi bunga dan pewangi menyeruak ketika kami memasuki makam. Sudah menjadi lumrah makam ulama di timur tengah hingga Turki dihias sedemikian rupa. Selain kami, banyak penduduk yang juga berdoa di tepi makam.

Apakah berdoa di makam syirik? Itu kembali ke pemahaman masing-masing. Bagi kami, mereka adalah penyambung ilmu islam yang telah tertidur. Sungguh hati ini teriris ketika mendapati makam orang berilmu penuh debu dan hampir tak dikenali. Sepuluh, lima puluh, seraths tahun lagi, jika peristirahatan terakhir mereka rata dengan tanah tak ada lagi yang mengenali mereka, tak ada lagi bukti bahwa pernah ada pembawa cahaya ilmu dari abad silam, semua sirna karena semata mempersoalkan makam. Kami semata hanya menitipkan alfatihah dan doa bagi mereka yang ratusan tahun lalu hidup mendermakan diri untuk mengkaji dan mengajarkan ilmu. Bukankah baik memberi salam pada para penghuni kubur?



https://izzatunnisa.wordpress.com/2019/10/24/senyapnya-tidur-para-pemangku-ilmu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram