Tanpa Judul



Ditulis oleh: Puspa Larasati



"....Matilah kau, Habis dimakan cacing." Ucap Naga di depan makam sahabatnya, Bujang.

Siapa yang tak asing mendengar dialog diatas? Itulah salah satu dialog yang diucapkan Naga dalam film legendaris Nagabonar. Ya, semenjak aku menonton film tersebut, kalimat itu seperti kaset kusut yang berputar dalam otakku, terdengar berputar berulang-ulang. Suatu saat Akupun akan mengalaminya, mati dimakan cacing di dalam tanah. Semua itu membuatku merenung.

"Asep, kesinilah bantuin gue, kita harus cepet, ada yang harus dikubur nanti bada asar" teriakkan bejo mengagetkanku.

Aku baru satu bulan ikut bekerja dengan sepupuku, Bejo, menjadi penggali kubur. Tanah yang ku gali berukuran 2.5x1.5 m, menjadi rumah masa depan, siap menyambut kedatangan penghuni barunya. Kata orang, kubur itu menjadi cerminan amal perbuatan orang yang mati di dalamnya.

"Kalau ada yang tanya kok lo ga takut si? Lo mau tau jawabannya? Gue lebih takut mati dimakan cacing dan merasakan azab Allah yang begitu nyata, gue takut bekal gue tidak cukup buat menghadap Sang pemilik kerajaan Langit dan Bumi."

Lagipula pikirku, apa mungkin manusia yang telah mati berubah jadi hantu yang gentayangan, hantu penasaran yang bikin takut orang, pikirku setelah masuk ke dalam tanah terputuslah semua urusan dengan manusia yang hidup, manusia akan sibuk dengan urusannya sendiri, memikirkan prihal pertemuan dengan utusanNYA, prihal menjawab pertanyaan dari para malaikat.

Lalu ada yang bertanya lagi, memangnya tidak pernah melihat sosok makhluk astral? Pernah. Seram? Iya.

Aku percaya dan sangat yakin makhluk itu ada, karena memang Allah pula yang menciptakannya, Jin, ada yang baik dan ada pula yang jahat. Yang jahat selalu bertugas untuk mengganggu manusia agar tidak taat kepadaNYA. Ya memang tugasnya begitu, segala cara pasti dilakukan dengan bujuk rayuan maut agar terperdaya, bahkan bisa juga menyerupai wujud manusia. Tugasnya ya memang begitu untuk mengusik hati dan menggoyangkan iman manusia.

Dulu aku terkadang begitu mencintai hidup, seperti akan hidup seribu tahun, mencintai seseorang berlebihan hingga rela berkorban melakukan apapun, mencintai harta yang ku punya hingga tak mau berbagi pada siapapun. Aku terkadang lupa, bahwa harta dan keluarga atau orang lain hanyalah mampu mengantarkan sampai pemakamannya saja, setelah jasad dibenamkan di dalam tanah dan terlihat gundukan yang ditancapkan nisan bertuliskan nama pulan bin pulan itu, yang tersisa hanyalah amal perbuatan manusia. yang akan menemaninya di alam kubur, sebagai perbekalan menunggu waktu dibangkitkan kembali.

Ini bukan tentang manusia lain yang sedang aku bicarakan, tapi lebih tepatnya aku, Ya aku, Asep, tukang gali kubur, aku lebih suka menyebutnya arsitek rumah masa depan. Aku yang masih sering lalai membaca tanda kebesaranNYA. Masih sering acuh tak mengindahkan seruanNYA. Namun ibadah bukan hanya tentang sholat, puasa dan baca quran. Hidup dengan hati yang bersih, bersyukur dalam keadaan apapun, ikhlas berbagi kepada siapapun. Persiapkan perbekalan dengan matang hingga cukup bekal sampai hari perhitungan datang.

Ambil peran hidup sebagai apapun, ini kisahku yang mengambil peran sebagai penggali kubur. Yang lainnya misalnya dengan izin Allah seorang dokter membantu orang lain mendapatkan kesembuhan setelah ikhtiar yang dilakukan, atau seorang guru dengan izin Allah membantu memberikan ilmu yang bermanfaat kepada anak-anak demi mencerdaskan anak bangsa.

Bahkan menjadi seorang ibu yang dianggap sungguh luar biasa. Karena jangan pernah menganggap biasa saja, akh hanya ibu rumah tangga saja kok, karena dengan izin Allah, ibu mengandung dengan segala upaya menjaganya dalam keadaan lelah dan lemah, melahirkan dengan rasa sakit yang begitu dasyat dan membesarkan anaknya dengan pengorbanan begitu besar, sampai Rasulallah saja menjawab "ibu" sebanyak 3x saat ditanya kepada siapa seorang anak pertama kali harus berbakti.

Jadikanlah semua peran yang kita ambil menjadi ladang pahala untuk bekal kelak nanti.
Kini aku bangga akan peranku, sebagai arsitek rumah masa depan manusia. Sedikit berlebihan tapi tak apa ya.

Kalau mendengar kata makam emang konotasinya agak horor ya. Tapi dari sanalah aku mendapatkan nafkah lahir batin. Batinku mendapatkan nafkah, bahwa hidup hanyalah sedang menunggu waktunya kematian. Menunggu antrian panjang menuju gerbang keabadian. Bagaimana tidak, setiap harinya, pasti ada saja yang menemui ajalnya dan ku gali tanah untuk pemakamannya.

Untuk itu, hidup setelah mati itu butuh bekal, bekalnya hanyalah ibadah sebaik-baiknya kepadaNYA untuk mengharapkan ridhoNYA waktunya sungguh singkat, dan kitapun tak tahu kapan waktunya tiba. Tidak tua tidak muda, tidak dalam keadaan sakit ataupun sehat semua bisa terjadi pada siapapun. Hal yang terasa tak mungkin menjadi sangat mungkin, emang manusia bisa apa? Saat Yang Punya minta kembali. Saat Sang Sutradara meminta turun dari panggung kehidupan ini.

Aku sadar aku tuh berasal dari tanah, tanah yang diinjak-injak, harusnya sikapku lebih membumi, namun mengapa terkadang sikapku sungguh melangit, sombong, merasa punya segalanya, merasa punya kekuasaan tak terbatas. Aku terkadang lupa, ada Sang Khaliq yang mampu berkata "kun fayakun", Maha berkehendak tanpa perlu izin pada siapapun, Dia-lah yang punya hak prerogatif tunggal. Mudah baginya melakukan apapun, bahkan memanggilnya pulang ke pangkuanNYA, tanpa mengenal batas waktu dan usia, tanpa perlu izin dan ucapkan salam sebelumnya.

Rasanya makam bagiku lebih terasa sebagai bahan refleksi kehidupan dan menghikmati kematian. Bagaimana tidak, saat raga terpisah dengan jasad dan diantarkan ramai-ramai sanak keluarga ke rumah barunya, setelah itu jasad di dalam tanah ditinggalkan sendirian terhimpit tanah, gelap, sepi, sunyi.

Tempat tidur mewah dengan bantal terlembut ternyaman di dunia, baju dan perhiasan bermerk paling mahal, kendaraan super canggih yang dulu pernah dimiliki, namun saat kembali kepadaNYA semuanya sama, hanya berkendara keranda, berbajukan kain kafan, dan tubuh tertidur pulas di dalam tanah menunggu hari kebangkitan.

Terimakasih Bejo,
telah mengajakku.

Dariku yang tak bisa menjadi arsitek untuk rumah masa depanku sendiri,

Asep.

Waallahu A'lam bisshowab.

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur)." (QS. Ar-Rum 30: Ayat 25)

#oneweekonewriting #ibuprofesionaldepok #kelasminatmenulis #makam #kubur #kuburan #arsitekrumahmasadepan #celotehpuspa #ceritapuspa #owow6


https://free.facebook.com/story.php?story_fbid=10217435659780783&id=1153788412&_rdc=1&_rdr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram